Kamis, 07 November 2013
Sangkar dan burung Pipitnya II
Kamis, 7 November 2013.
Dalam kesedihan sang Sangkar berdoa kepada dewa sangkar untuk dapat bertemu dengan pipitnya. karena kerinduannya yang begitu dalam. Maka berhembuslah angin kencang yang melemparkan Sangkar keluar dari halaman tuanya. Sangkar terjatuh terguling-guling sampai pinggir aspal. Kemudian sang sangkar melihat ke kirinya, melihat ke rumah tetangga tuannya. Ada tiga ekor pipit bermain-main di atas beton pelataran. tidak jauh dari situ, Sangkar melihat sebuah sangkar di atas meja-meja payung dari beton dengan pipit bermain di dalamnya. Sangkar tau pipit itu... Sangkar mengenalnya...CINTANYA.
Baru saja sekilas Sangkar melihat pipitnya itu, diangkatnya lah ia oleh tuannya untuk di kembalikan ke tempat gantungannya yang semula. Semakin hancurlah sang Sangkar, kali ini benar-benar hancur. Jeruji-jeruji kayunya menjadi banyak yang patah. Lantai dasarnya mulai berlubang. Remah-remah kayunya terbang kesana kemari. Sang Sangkar tau... waktunya sudah dekat. Kemudian ia menggoyangkan dirinya ke tembok. menggores tembok sambil berkata, " Ku bungkus kesedihanku di dalam mu.. bukan dalam kau tembok, tapi dalam goresan itu, goresan yang ku goreskan padamu. Sebuah tanda titik dua dengan tutup kurung setelahnya"
Maka diamlah Sangkar pada gantungannya dengan tetap memegang janjinya.
Dalam kesedihan sang Sangkar berdoa kepada dewa sangkar untuk dapat bertemu dengan pipitnya. karena kerinduannya yang begitu dalam. Maka berhembuslah angin kencang yang melemparkan Sangkar keluar dari halaman tuanya. Sangkar terjatuh terguling-guling sampai pinggir aspal. Kemudian sang sangkar melihat ke kirinya, melihat ke rumah tetangga tuannya. Ada tiga ekor pipit bermain-main di atas beton pelataran. tidak jauh dari situ, Sangkar melihat sebuah sangkar di atas meja-meja payung dari beton dengan pipit bermain di dalamnya. Sangkar tau pipit itu... Sangkar mengenalnya...CINTANYA.
Baru saja sekilas Sangkar melihat pipitnya itu, diangkatnya lah ia oleh tuannya untuk di kembalikan ke tempat gantungannya yang semula. Semakin hancurlah sang Sangkar, kali ini benar-benar hancur. Jeruji-jeruji kayunya menjadi banyak yang patah. Lantai dasarnya mulai berlubang. Remah-remah kayunya terbang kesana kemari. Sang Sangkar tau... waktunya sudah dekat. Kemudian ia menggoyangkan dirinya ke tembok. menggores tembok sambil berkata, " Ku bungkus kesedihanku di dalam mu.. bukan dalam kau tembok, tapi dalam goresan itu, goresan yang ku goreskan padamu. Sebuah tanda titik dua dengan tutup kurung setelahnya"
Maka diamlah Sangkar pada gantungannya dengan tetap memegang janjinya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar