My Second Home

Pages

  • Beranda

About Me

Foto Saya
aldytia
Warga HIMAFI FMIPA UNHAS
Lihat profil lengkapku

Followers

Blog Archive

  • ▼  2013 (2)
    • ▼  November (2)
      • Sangkar dan burung Pipitnya II
      • Sangkar dan burung Pipitnya
  • ►  2011 (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2010 (4)
    • ►  Desember (4)
Kamis, 07 November 2013

Sangkar dan burung Pipitnya II

Kamis, 7 November 2013.

Dalam kesedihan sang Sangkar berdoa kepada dewa sangkar untuk dapat bertemu dengan pipitnya. karena kerinduannya yang begitu dalam. Maka berhembuslah angin kencang yang melemparkan Sangkar keluar dari halaman tuanya. Sangkar terjatuh terguling-guling sampai pinggir aspal. Kemudian sang sangkar melihat ke kirinya, melihat ke rumah tetangga tuannya. Ada tiga ekor pipit bermain-main di atas beton pelataran. tidak jauh dari situ, Sangkar melihat sebuah sangkar di atas meja-meja payung dari beton dengan pipit bermain di dalamnya. Sangkar tau pipit itu... Sangkar mengenalnya...CINTANYA.

Baru saja sekilas Sangkar melihat pipitnya itu, diangkatnya lah ia oleh tuannya untuk di kembalikan ke tempat gantungannya yang semula. Semakin hancurlah sang Sangkar, kali ini benar-benar hancur. Jeruji-jeruji kayunya menjadi banyak yang patah. Lantai dasarnya mulai berlubang. Remah-remah kayunya terbang kesana kemari. Sang Sangkar tau... waktunya sudah dekat. Kemudian ia menggoyangkan dirinya ke tembok. menggores tembok sambil berkata, " Ku bungkus kesedihanku di dalam mu.. bukan dalam kau tembok, tapi dalam goresan itu, goresan yang ku goreskan padamu. Sebuah tanda titik dua dengan tutup kurung setelahnya"

Maka diamlah Sangkar pada gantungannya dengan tetap memegang janjinya. 
readmore »»  
Diposting oleh aldytia di Kamis, November 07, 2013 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Sangkar dan burung Pipitnya

Rabu, 6 november 2013


Sangkar kayu itu terhempas,
sang burung Pipitnya menyampaikan sebuah pesan dalam goresan dasar sangkar itu
sebuah goresan kuku, ditulis pada waktu malam ketika sang sangkar terlelap nyenyak,
bunyinya : " selamat pagi. maaf, baru sekarang aku bisa jujur sama kamu, aku tidak kuat pura-pura begini terus. carilah ketenangan mu sendiri ...!!! ".Sangkar terdiam. ia merasa seluruh sendi-sendi sambungan kayunya membeku, dingin, menyakitkan. semakin bergerak semakin patah. Sangkar merasa seperti seorang manusia yang diangkat tinggi melewati atmosfer bumi, kemudian dicampakkan kembali ke daratan dengan kerasnya. Hancur lebur hati kayunya, terkoyak terali kayunya. 

Masi dalam keadaan tertekan berat, Sangkar menyadari ada goresan lain pada anggota tubuhnya. tepat di bagian atapnya, goresan bertuliskan: " Aku sedang berada dalam posisi yang salah, dari pada Aku berpura-pura sayang kepada mu tapi selingkuh dengan sangkar lain dibelakangmu, sangkar yang lebih elok dan perhatian dari pada kamu, lebih baik aku jujur. tak mau lagi Aku menangis di dalammu. CUKUP ...!!!". Semakin beku sendi-sendinya, semakin kaku, habislah sudah segala kejayaan masah mudanya, gugur mengering. Sangkar hanya terdiam, menambah sunyi kesunyiannya, ingin sekali ia meneteskan air mata, agar lingkungannya mengerti keduakaannya. Tapi apa daya, ia hanya sebuah Sangkar.

Aku ingin mengejarnya...!!! mencarinya ...!!! dimana kau Pipit ku ...!!! kembali...!!! teriak Sangkar. 
Ia menggeliat-mengeliat pada gantungannya terus-menerus sampai kelelahan. Dan kemudian ia sadar, kalau ia  hanya Sangkar. Sangkar tak boleh beranjak dari gantungannya tanpa ijin dan kekuatan tuannya, yang empunya dia. 

Sangkar semakin sadar akan dirinya. 
Aku hanya Sangkar..!!! Patutkah aku mendapatkan hak-hak lebih selain hak-hak Sangkar ...???
Sangkar hanya punya satu hak ...!!! Menikmati kehidupan luar yang masuk berlindung ke dalamnya ...!!! Itu saja ...!!!
Aku hanya Sangggkaaaaaarrrrr...!!! sangkar mengerang.

Aku hanya Sangkar, malahan aku terkadang bingun. Aku sangkar atau bukan ...??? Dimana-mana Sangkar pintunya tertutup. Tapi aku tidak, aku tidak punya daun pintu. pintu ku terbuka lebar ...!!! Sengaja kurusakkan daun pintu ku sendiri pada tembok ini. Karena aku tau bahwa Sangkar bukan penjara ...!!!
bahwa burung butuh langit luas untuk terbang ...!!! Aku hanya tempat beristirahat ...!!! Aku berkata seperti itu karena aku belajar ...!!!

Sang Sangkar kemudian mengingat-ingat apa yang dia pelajari dahulu. Mengingatnya, kemudian bercerita kepada tembok di belakangnya. Ia tau persis tembok itu tidak bisa mendengarnya, apa lagi mengerti kata-katanya, tapi apa daya. Tak ada tempat curhat yang layak bagi sebuah Sangkar kayu selain kebisuan .  

"Hai tembok", sapah Sangkar dengan bentuk tersenyum, mengalihkan kesedihannya
Dahulu sang burung pipit itu senang terbang dekat pekarangan rumah tuan ku setiap hari. Ku perhatikan burung itu selalu hari demi hari dari posisi tergantung, tepat seperti ini. Pipit itu menarik, Aku senang dengan kicauannya, ia ceria dengan hari-harinya. Ingin rasanya aku mendekatinya, menariknya masuk kedalam ku. Itu yang ku rasakan ... rasa ingin mendekat ...!!! "Kau dengar tembok ?"
dan betul saja, pipit itu memberanikan diri terbang mendekat kepada ku. Hinggap di atap ku. Betapa indahnya kedekatan ini. "Kau pasti tidak dapat merasakan itu tembok"... sindir Sangkar sambil tersipu.       

Semakin sering pipit itu hinggap dan bermain di atas atapku semakin ingin aku memilikinya untuk masuk di dalamku. Rasa ingin mendekat ini berubah menjadi ingin memiliki. Sayangnya apa daya ku. seandainya aku bisa berbicara kepada pipit itu, maka ku suruh ia tinggal di dalamku dan menjadi milikku. Tapi kupikir itu mustahil. Ia seekor burung , dan aku hanya sebuah sangkar.

Betapa beruntungnya dan gembiranya aku ketika tuanku melihat pipit itu dan menangkapnya, kemudian menaruhnya ke dalamku yang kebetulan sedang kosong pada saat itu.  "hahaha benarkan tembok ...? aku merasa menjadi sangkar paling beruntung di seluru bumi ini". Rasa ingin memilikiku telah terwujud. Aku bisa menikmati pipit itu hari demi hari di dalam diriku.

Pipit yang ada di dalamku adalah burung yang elok rupanya, kicauannya indah, geraknya lincah menari-nari. Hingga sangkar lain yang di sana itu mulai cemburu terhadapku. "Hey tembok, sangkar yang ada di sana itu ... kau lihat ? beberapa sangkar itu dulu cemburu terhadapku". Rasa ingin memilikiku pun berkembang menjadi rasa ingin menjaga. Aku tak ingin sangkar lain merebut pipitku, aku tak ingin pipitku mati diterkam kucing tuanku. maka kuputuskan untuk merusak kunci pintu ku agar supaya pintuku terkunci mati dan tak terbuka. Maka kuhantamkan diriku ke kamu tembok samapi pintuku rusak terkunci mati. " kau ingat itu tembok?"
Hahahahaha ... aku berhasil, pipit hanya milikku sendiri aku pun berjanji padanya untuk menjaganya didalam ku sampai ia tua dan mati. Aku pun yakin ia juga berjanji seperti itu, untuk tinggal di dalam ku sampai masa tuanya.. sangkar tertawa bangga, matanya berbinar-binar....namun seketika ia diam tertegun.

"Hey tembok, kau tau...?" gara-gara aku mengunci pipit ksayanganku itu, lama-kelamaan aku mulai tersadarkan akan sesuatu. Aku tak tahu apaka sangkar lain menyadari hal itu, aku tahu karena aku yang melakukannya. Aku melihat perbedaan-perbedaan dari hari-kehari, aku belajar dan aku menyadari sesuatu. "kau tau apa itu tembok..?"

AKU SANGKAR ...!!! AKU PENJARA ...!!! teriak Sangkar penuh emosi.

BURUNG PIPIT TAK SEHARUSNYA DI DALAM SANGKAR TERUS...!!!

IA PUNYA SAYAP ...!!!
IA BUTUH TERBANG ...!!!
IA BUTUH LANGIT...!!!
IA BUTUH BERSOSIALISASI DENGAN PIPIT-PIPIT LAINNYA...!!!

AKU HANYA TEMPAT BERISTIRAHATNYA...!!!

AKU MENGATAKAN PADA DIRIKU AKU MENCINTAINYA...!!!
AKU PERHATIAN TERHADAPNYA...!!!
TETAPI APA...??? AKU MALAH MENGURUNGNYA DALAM PENJARA DIRIKU...!!!

AKU INGIN DIA BEBAS DAN TERSENYUM...!!!
MENGEPAKKAN SAYAP-SAYAP TIPISNYA...!!!
MENARI-NARI DENGAN PIPIT-PIPIT LAIN DI PANGGUNG AWANNYA...!!!

Seketika itu Sangkar tersentak diam. Semakin hancur dan rusak sendi-sendi penyambung kayunya, sangkar agaknya menjadi semakin kesakitan. Diam beberapa saat, kemudian Sangkar mulai berkata pelan kepada tembok.
"Hey tembok, ... kau tau setelah aku meneriakkan itu aku membenturkan diriku ke kamu lagi kan tembok..? kau ingat itu tembok? ... aku membenturkan diri ku dengan maksud merusakkan daun pintuku yang terkunci mati agar terbuka terus. Dan aku berhasil. Daun pintuku rusak, aku menjadi sangkar yang terbuka, pintuku tak bisa tertutup lagi. pipit pun terbang keluar dari pintu ku terbang menari di awan.
sempat ku pikir ia tak akan kembali lagi. tapi ternyata menjelang malam ia kembali. pipit ku tidur kembali didalam ku. Aku berfikir saat itu, sang pipit tau mana rumahnya, rumah yang setia mencintainya.
ku biarkan pintu ku terbuka agar pipit bebas kesana kemari. Ia begitu riang gembira, senang sekali ... aku hanya bisa tersenyum di balik gantunganku sambil menunggu ia kembali untuk beristirahat didalam ku.
Hingga pada suatu saat ia mulai jarang kembali beristrahat ke dalamku lagi, biasa seminggu sekali, bahkan sebulan sekali.

Aku tau ada yang aneh ... tapi aku hanya sangkar ... aku tak bisa menuntut lebih dari hak ku. Aku tahu ia butuh terbang bebas dan bersosialisasi menjalankan hobinya dan kebiasaannya di luar bersama pipit-pipit lain. Maka ku nanti dengan sabar dan tekun kepulangannya. 
Hingga hari ini, ketika aku menemukan pesan dalam goresan-goresan pipitku pada kayu lapukku. Yang menghancurkan segala pengharapanku, penantian ku.

HAI TEMBOK ... INI KATA-KATA TERAKHIRKU UNTUK HARI INI. CAMKAN ITU ...!!! DAN INGAT ...!!!
teriak Sangkar dengan penuh luapan emosi.
MESKIPUN IA TELAH BERNAUNG DIBAWAH SANGKAR LAIN,
AKU AKAN TETAP MENANTINYA KEMBALI...!!!
PINTUKU TERBUKA TERUS ...!!!
AKU TAK PEDULI IA MAU DATANG DENGAN SAYAP -SAYAP PATAH ...!!!
BULU YANG TERKULAI ...!!!
PARU YANG BENGKOK ...!!!
AKU TETAP AKAN MENGAMBILNYA ...!!!
KARENA AKU TELAH BERJANJI SETIA ...!!!
MENJAGANYA DIDALAMKU SAMPAI KETUAANNYA ...!!!

ITU SAJA ...!!!









readmore »»  
Diposting oleh aldytia di Kamis, November 07, 2013 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
Langganan: Komentar (Atom)
Copyright © 2012 My Second Home |